Sabtu, 03 Desember 2011

laporan pengamatn Ekosistem Persawahan

LAPORAN PRAKTIKUM
MATA KULIAH EKOLOGI KESEHATAN
“EKOSISTEM PERSAWAHAN”






Disusun Oleh:
1. Ferdian Bulan Purbayu (B1003017)
2. Ferdian Indra Saputro (B1003018)
3. Fikri Nur Faozi (B1003019)
4. Imam Agung Fajarudin (B1003026)
5. Isnaini Candrawati (B1003028)





PROGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK BANJARNEGARA
TAHUN 2011

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Semua benda yang ada di dunia ini baik yang hidup maupun yang mati saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dipelajari dalam ilmu ekologi. Ekologi didefenisikan sebagai kajian yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme-organisme hidup dengan lingkungan fisik dan biotik secara menyeluruh. Jadi dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa ekologi itu adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya (biotik dan abiotik) dalam suatu ekosistem
Organisme-organisme saling berinteraksi satu sama lain, dan juga berinteraksi dengan unsur-unsur abiotik yang ada di sekelilingnya. Jadi organisme-organisme dan komponen-komponen fisik lingkungan menyusun sebuah ekositem atau sistem ekologi. Komponen yang hidup, tumbuhan dan hewan, membentuk lingkungan biotik sedang komponen-komponen fisik merupakan lingkungan abiotik. Lebih jelasnya, bagian-bagian yang mengisi ekosistem antara lain terdiri dari, bahan-bahan anorganik seperti, persenyawaan organik seperti karbohidrat, unsur iklim dan cuaca seperti temperatur, kelembapan, tekanan udara dll, organisme produsen yang mampu memproduksi bahan makanan, dan organisme konsumen yang makan makhluk lain atau hasil produksinya.
Oleh karena itu, dengan adanya keanekaragaman di dalam ekosistem tersebut kami mengambil Ekosistem Persawahan sebagai judul peneletian ini.


B. Tujuan
Tujuan dilakukannya penelitian itu sendiri adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui macam-macam objek penyusun ekosistem sawah
2. Untuk mengidentifikasi komponen abiotik dan komponen biotic yang menyusun ekosistem persawahan
3. Untuk mengetahui interaksi-interaksi yang mungkin terjadi antar kelompok-kelompok penyusun ekosistem persawahan.


















BAB II
MATERI DAN METODE

A. Materi

1. Alat yang dibutuhkan:
• Alat tulis untuk mencatat
2. Bahan yang diperlukan:
• Ekosistem persawahan yang akan diamati

B. Metode
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini yaitu:
1. Disiapkan buku lapangan dan dibuatkan catatan tentang hari/tanggal, waktu, kondisi lapangan
2. Dilakukan observasi dan diamati lokasi persawahan sebagai satu kesatuan ekosistem
3. Dicatat objek/benda hidup dan mati yang ditemyukan dalam ekosistem dan disajikan dalam table 2.1
4. Digambar ekosistem persawahan, lengkap dengan objek/benda yang penting serta lingkungan pembatas disekitarnya dan disajikan dalam gambar 2.1
5. Dari daftar objek/benda di table 2.1, dikelompokkan objek/benda tersebut dalam dua kelompok:
a. Komponen abiotik
b. Komponen biotic, kemudian disajikan pada table 2.2
6. Dilakukan identifikasi (berdasarkan binomial nomenklaturnya) terhadap komponen-komponen biotic (organism) yang dicatat dan disajikan pada table 2.3
7. Dilakukan pengelompokkan komponen-komponen biotic (organisme) tersebut berdasarkan fungsi ekologisnya seperti produser, consumer, decomposer dan berdasarkan trophiknya seperti herbivore, omnivor, dan karnivor
8. Digambarkan interaksi-interaksi yang mungkin terjadi antar kelompok-kelompok tersebut dalam bentuk diagram dan disajikan pada gambar 2.2
9. Dibandingkan antara hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan ekosistem lainnya dari artikel ilmiah yang telah dipublikasikan.


















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
(ada pada lampiran)

B. Pembahasan
Dari hasil yang telah diperoleh pada table dapat diterangkan sebagai berikut:

• Tabel 2.1 Daftar objek/ benda yang ditemukan dalam ekosistem
Pengamatan yang dilakukan pada tanggal 28 November 2011 pukul 11.00 WIB dengan temperature sekitar 280 C dan cuaca yang begitu cerah menghasilkan data seperti yang tertera pada table. Telah diketahui bahwa Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada. Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup.
Salah satu contoh ekosistem itu sendiri adalah persawahan. Di dalam ekosistem persawahan terdapat hubungan timbale balik antara organism dengan lingkungannya. Seperti halnya ekosistem-ekosistem yang lain, ekosistem persawahan terdiri dari komponen-komponen benda hidup dan juga benda mati. Komponen-komponen penyususn ekosistem persawahan yang ada diantaranya yaitu padi sebagai populasi terbesar di ekosistem persawahan, ada juga berbagai macam tanaman lain seperti jagung, singkong, kunyit, talas dan rerumputan disekitar parit serta pepohonan lain disekitar persawahan. Selain tumbuhan juga terdapat berbagai macam binatang seperti belalang, semut, kadal, katak dan binatang yang bersayap seprti capung dan kupu-kupu. Terdapat juga komponen benda tak hidup seperti tanah dan air. Objek tersebut merupakan komponen-komponen ekosistem persawahan yang kemungkinan akan terjadi hubungan timbale balik diantara organism-organisme tersebut.

• Gambar 2.1 Pemetaan objek/benda dalam ekosistem
• Table 2.2 Komponen-komponen penyususn ekosistem
Setelah dilakukan pendataan mengenai objek yang terdapat dalam ekosistem persawahan selanjutnya dilakukan pengelompokkan objek tersebut berdasarkan sifatnya yaitu biotic dan abiotik. Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:
abiotik
1. Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
2. Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3. Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.
4. Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
5. Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
6. Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.
Selain itu ekosistem juga terdiri dari factor biotic. Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:\
Autotrof / Produsen
Komponen autotrof terdiri dari organism yang dapt memanfaatkan sinar matahari untuk menghasilkan energy, sebagai bahan makanan untuk tumbuh dan berkembanag.
Heterotrof / Konsumen
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
Pengurai / dekomposer
Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu:
1. aerobik : oksigen adalah penerima elektron / oksidan
2. anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron /oksidan
3. fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai penerima elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan air sebagai komponen autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen pengurai, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.

• Gambar 2.2 Komponen-komponen penyususn ekosistem


• Table 2.3 Komposisi organisasi dalam ekosistem berdasarkan fungsi ekologis dan trophiknya
1. Komponen Biotik (bio = hidup)
Komponen biotik meliputi semua makhluk hidup yang terdapat dalam ekosistem. Berdasarkan fungsinya, makhluk hidup dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Produsen
1. Autotrof = organisme yang mampu menyediakan makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia.
2. Alga = sekelompok organisme autotrof yang tidak memiliki organ dengan perbedaan fungsi yang nyata. Alga bahkan dapat dianggap tidak memiliki “organ” seperti yang dimiliki tumbuhan (akar, batang, daun, dan sebagainya).
3. Fitoplankton = salah satu komponen autotrof plankton yang memperoleh energi melalui proses fotosintesis sehingga mereka harus berada pada bagian permukaan (disebut sebagai zona euphotic) lautan, danau atau kumpulan air yang lain. Melalui fotosintesis, fitoplankton menghasilkan banyak oksigen yang memenuhi atmosfer Bumi.
b. Konsumen
1. Herbivora, konsumen yang hanya mengonsumsi tumbuhan dan merupakan konsumen tingkat pertama.
2. Karnivora, organisme pemakan daging saja dan juga memakan hewan herbivora sehingga disebut dengan konsumen kedua.
3. Omnivora, pemakan segala (tumbuhan dan hewan).
c. Dekomposer
Bakteri Saprofit = bakteri yang menguraikan tumbuhan atau hewan mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri saprofit menguraikan protein, karbohidrat, dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana sehingga keberadannya sangat berperan dalam membersihkan sampah organik di lingkungan sekitar.
Hubungan Saling Ketergantungan
Hubungan saling ketergantungan antara komponen biotik dan komponen abiotik:
1. Komponen biotik memengaruhi komponen abiotik.
2. Komponen abiotik memengaruhi komponen biotik.
Hubungan saling ketergantungan antara komponen biotik dengan sesama komponen biotik:
1. Saling ketergantungan intraspesies (makhluk hidup sejenis).
2. Saling ketergantungan antarspesies (makhluk hidup tidak sejenis).
Saling ketergantungan antarspesies yang berbeda jenis juga terjadi dalam peristiwa makan dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan menimbulkan perpindahan materi dan energi. Hal ini akan membentuk jaring-jaring kehidupan yang terdiri dari:
1. Rantai Makanan
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan yang digambarkan secara skematis dalam bentuk garis lurus searah dan tidak bercabang.
Misalnya rumput >> belalang >> ayam >> ular, maka terjadi perpindahan energi dari produsen >> konsumen I >> konsumen II >> konsumen III.
2. Jaring-jaring Makanan
Beberapa rantai makanan dengan pola yang lebih rumit dari contoh rantai makanan di atas dan saling berkaitan membentuk sebuah jaring-jaring makanan. Misalnya ular tidak hanya makan ayam dan ayam tidak hanya makan belalang. Jaring-jaring makanan selalu berawal dari produsen dan diakhiri oleh pengurai. Bahan-bahan yang diuraikan itu akan kembali digunakan oleh produsen sehingga daur materi dan energi tidak pernah terputus.
3. Piramida Makanan
Piramida makanan adalah suatu piramida yang menggambarkan perbandingan komposisi jumlah biomassa dan energi dari produsen sampai konsumen puncak dalam suatu ekosistem. Komposisi biomassa terbesar terdapat pada produsen yang menempati dasar piramida. Demikian pula jumlah energi terbesar terdapat pada dasar piramida. Komposisi biomassa dan energi ini semakin ke atas semakin kecil karena selama proses perpindahan energi terjadi penyusutan jumlah energi pada setiap tingkat trofik.

D. Jenis-Jenis Interaksi Antarorganisme
1. Hubungan Netral
Hubungan netral yaitu hubungan yang tidak saling memengaruhi. Namun sesungguhnya hubungan yang benar-benar netral tidak ada, sebab setiap organisme memerlukan komponen abiotik (udara, ruangan, air, dan cahaya) yang sama, sehingga timbul persaingan.
2. Hubungan Simbiosis
Hubungan simbiosis yaitu hubungan saling memengaruhi antara dua organisme. Hubungan simbiosis ada tiga jenis:
a. Simbiosis Mutualisme
Simbiosis mutualisme yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang saling menguntungkan.
b. Simbiosis Komensalisme
Simbiosis komensalisme yaitu hubungan antara dua jenis organisme di mana yang satu diuntungkan dan yang lain tidak dirugikan saat saling berinteraksi.
c. Simbiosis Parasitisme
Simbiosis parasitisme yaitu hubungan antara dua jenis organisme yang merugikan salah satu pihak, sedangkan pihak yang lain diuntungkan saat berinteraksi.
3. Hubungan Kompetisi
Hubungan kompetisi terjadi jika dalam suatu ekosistem terjadi ketidakseimbangan, misalnya kekurangan air, makanan, dan ruang. Hubungan kompetisi dapat terjadi antara individu-individu dalam satu spesies maupun individu-individu yang berbeda spesies.
4. Hubungan Predasi
Hubungan predasi yaitu hubungan antara organisme yang memangsa dan organisme yang dimangsa.

• Gambar 2.3 Komposisi organisasi dalam ekosistem berdasarkan fungsi ekolohis dan trophiknya




















BAB IV
KESIMPULAN

Dari praktikum yang klami lakukan di ekosistem sawah, tepatnya di desa Bantarwaru, kami dapat mengambil kesimpulan yaitu:
1. komponen abiotik dan komponen biotic yang menyusun ekosistem persawahan adalah
a. Komponen biotik meliputi semua makhluk hidup yang terdapat dalam ekosistem. Berdasarkan fungsinya, makhluk hidup dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Produsen
b. Konsumen
c. Dekomposer
b. Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.Sedangkan Komponen abiotiknya antara lain :

1. Suhu
2. pH
3. Sinar matahari
4. Salinitas
5. Air
6. Udara
7. Kelembaban

4. Interaksi - interaksi yang terjadi antar kelompok-kelompok penyusun ekosistem persawahan yaiut adanya hubungan :
a. Hubungan Netral
b. Hubungan Simbiosis
1. Simbiosis Mutualisme
2. Simbiosis Komensalisme
3. Simbiosis Parasitisme
c. Hubungan Kompetisi
d. Hubungan Predasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar